close

Tebing Keraton, Pesona Matahari Terbit Di Bandung

tebing keraton bandung

Siapa yang tidak tahu Tebing Keraton? Tempat wisata yang sedang menjadi tren saat ini, terutama bagi kalangan anak muda Bandung.

Keraton selalu ramai di kunjungi, mulai subuh hingga petang hari. Apa kelebihan dari tebing ini? Mari mengenal lebih jauh tentang salah satu pesona alam di Bandung tersebut.

Gambar utama: Flickr (nipunadh)

Asal Mula Nama

Seperti halnya semua tempat wisata memiliki sejarah untuk namanya masing-masing, tempat ini pun memiliki asal usulnya sendiri. Walaupun tidak berhubungan dengan legenda atau cerita rakyat setempat mana pun, sejarahnya juga terbilang cukup unik.

tebing keraton bandung - gambar 2

Sumber: Nusataraexplorer.blogspot.co.id

Karena struktur alam yang cukup menjorok ke depan, tebing tersebut tadinya bernama Jontor. Ya, mungkin karena sekilas memang kelihatan seperti bibir yang jontor. Nama ini bertahan untuk beberapa lama sampai akhirnya di ubah oleh salah satu penduduk setempat bernama Pak Asep.

Pak Asep mengawali pengenalan lokasi kepada khalayak umum dengan cara mengubah namanya menjadi Tebing Karaton. Kata “Karaton” di sini sangat kental akan aksen sunda, mewakili keindahan dan kemewahan alam yang bisa di nikmati melalui tebing.

Awalnya, beliau mulai memasang papan penunjuk atau informasi. Seiring dengan semakin bertambahnya pengunjung, ia juga membuat jalan setapak lengkap dengan lahan parkir.

tebing keraton bandung - gambar 4

Sumber: Indonesia-tourism.com

tebing keraton bandung - gambar 5

Sumber: fxmuchtar.blogspot.co.id

Sejak saat itulah, tempat ini menjadi semakin populer sampai akhirnya memiliki pengelola yang lebih profesional seperti sekarang. Pak Asep memulai semua itu pada bulan Mei tahun 2014. Hanya di butuhkan dua tahun saja untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi populer bagi para fotografer alam, explorer, maupun traveller.

Seiring dengan semakin di kenal oleh beragam kalangan masyarakat, nama “Karaton” pun mengalami pergeseran.

Nama resmi tetaplah Karaton, tetapi para wisatawan sering menyebutnya dengan Tebing Keraton. Hal tersebut mungkin di latar-belakangi oleh kata “Keraton” yang lebih umum dipakai.

Apa yang menarik?

Tebing Keraton tidak sekadar menawarkan perjalanan yang sedikit mendaki. Karena keasriannya, udara di sekitar pun masih sangat sejuk dan cenderung dingin. Berada di sini serasa seperti berada di tempat tanpa polusi sama sekali.

Sesampainya di lokasi, kita dapat menikmati hijau dan tenangnya suasana alam menuju tebing. Terlebih saat di atas, (ketinggian 1.200 mdpl) pengunjung akan terpukau dengan struktur tebing yang nyaman, serta bisa mengekspos keindahan di sekitarnya.

Lebih dari sekadar pemandangan indah, tempat wisata di Bandung ini juga menawarkan pesona lainnya. Terutama pada pagi hari.

Karena posisinya, wisatawan dapat melihat langsung matahari terbit yang perlahan-lahan muncul dari balik kabut tebal, menutupi hutan yang hijau.

tebing keraton bandung - gambar 3

Sumber: Indonesiawisata.info

Karena hal tersebut, tidak mengherankan jika Tebing Keraton justru ramai oleh pengunjung saat subuh. Sayang karena lokasinya juga, kita tidak dapat melihat matahari terbenam walaupun itu tidak mengurangi keindahan pemandangan yang bisa di nikmati pengunjung.

Selain pesona matahari terbit yang mempesona, tebing ini juga memiliki salah satu batu yang letaknya tepat di tepi jurang.

tebing keraton bandung - gambar 7

Sumber: Kemananihh.wordpress.com

Letak batu ada di posisi yang cukup berbahaya dan tidak di anjurkan untuk di capai tanpa mengenakan peralatan pengamanan profesional.

Hanya saja, fakta ini ternyata seringkali di acuhkan oleh pengunjung. Tentu saja, penyebabnya adalah batu tersebut menjadi lokasi terbaik untuk berfoto.

tebing keraton bandung - gambar 6

Sumber: Misterbandung.com

Pengunjung akan tampak sedang duduk-duduk di atas batu dengan latar belakang lukisan nyata yang memamerkan keindahan alam.

Rute Menuju Tebing Keraton

Jadi, di mana lokasi tebing? Sebenarnya, Keraton masih berada dalam wilayah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tepatnya di wilayah Dago, Desa Ciburial sekitar 13 kilometer dari Stasiun Bandung. Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung bisa melewati Jalan Ir. H. Djuanda dan lurus terus menuju ke arah ITB.

Anda di anjurkan untuk mengambil arah ke Terminal Dago setelah melewati Jalan Layang Pasopati. Dari Terminal, tetap berjalan lurus hingga menemui persimpangan dua jalan.

Ambil jalan di sebelah kanan yang mengarah ke Bukit Dago Pakar. Setelah persimpangan, kita cukup berjalan sampai melewati minimarket Indomaret dan mengambil arah ke kiri menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Setelah melewati taman, pengunjung akan menemukan persimpangan berikutnya (tiga jalan). Lanjutkan perjalanan menuju Bukit Pakar (sebelah kanan). Terus saja ikuti jalur dan belok ke kanan pada persimpangan pertama.

Setelah melewati sebuah warung wedang bandrek, belok ke kiri. Tidak lama, pengunjung akan melewati pemukiman warga.

Ikuti jalan sampai mentok, lalu belok ke kiri lagi. Setibanya di sana, Anda akan menemukan gapura atau pintu masuk menuju Tebing Keraton.

Tips bagi pengunjung

Berdasarkan pengalaman dan rekomendasi pengelola, ada beberapa anjuran untuk pengunjung yang mungkin akan sangat membantu.

  • Kenakan sepatu nyaman untuk berjalan yang menanjak serta jaket. Udara di puncak tebing memang dingin, dan sebagian besar pengunjung yang datang tanpa memakai jaket juga mengalami masalah kulit terbakar.
  • Walaupun bisa di capai dengan menggunakan mobil, menaiki sepeda motor jauh lebih cepat dan praktis terutama saat memasuki pemukiman warga.
  • Demi menjaga kelestarian alam sekitar, sebaiknya kumpulkan sampah kita sendiri dan buang pada tempat yang sudah di sediakan.
  • Tidak boleh menimbulkan kegaduhan dan sengaja berdesak-desakkan di pinggir tebing.
  • Anda tidak boleh melewati pagar pembatas, ini demi keselamatan diri sendiri.
  • Datang ke Tebing Keraton sebelum matahari terbit, karena itu merupakan waktu yang terbaik.

Selain itu, ada beberapa hal yang juga harus di perhatikan oleh pengunjung. Pertama, tempat wisata ini di buka untuk umum sejak pukul 05.00 pagi hingga 18.00, dan wajib untuk membayar tiket masuk sebesar 10.000 rupiah per orang dan asuransi sebesar 1.000 rupiah.

Bagi pengendara motor, di kenakan biaya parkir sebesar 5.000 rupiah. Sementara itu, pengendara mobil harus membayar parkir sekitar 10.000 rupiah.

Tampaknya Tebing Keraton terlalu sayang untuk di lewatkan. Pemandangannya yang tidak biasa serta biaya murah, menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh untuk bisa mencapai lokasi.

Keunikan lokasi yang memungkinkan pengunjung menyaksikan indahnya matahari terbit dengan pemandangan terbaik juga menjadi alasan lainnya, terutama oleh para fotografer.

Tebing ini sempat di tutup untuk renovasi dan perbaikan vegetasinya. Tetapi tak lama berselang, telah di buka kembali untuk umum.

Sayangnya, Tebing Keraton belum menawarkan fasilitas penginapan bagi pengunjung.