close

Sanghyang Heuleut, Danau Purba Favorit Para Bidadari

sanghyang heuleut

Bandung Barat memang menyimpan banyak potensi yang tidak boleh Anda lewatkan. Sanghyang Heuleut salah satunya. Tempat ini berupa sebuah danau dengan pesona luar biasa.

Lokasinya cukup tersembunyi dan sulit di jangkau. Walaupun belum sepopuler objek wisata lain, sudah cukup banyak orang yang mengetahui dan menyambanginya. Seperti apa sih?

Gambar: abahraka.com

Istilah Sanghyang Heuleut

Dalam bahasa Sunda, heuleut berarti selang antara dua waktu. Waktu yang di maksud adalah waktu dunia manusia dan bagi penghuni surga, termasuk para bidadari.

sanghyang heuleut - gambar 1

Sumber: Lihat.co.id

sanghyang heuleut - gambar 2

Sumber: Cisitu9.wordpress.com

Danau ini di sebut-sebut sebagai tempat di mana para penghuni surga melintasi perbedaan waktu dan menikmati keindahan di bumi.

Bagi masyarakat sekitar, Sanghyang Heuleut memang di anggap istimewa karena ada legendanya. Konon, keindahan danau yang begitu memukau, memikat para bidadari untuk memutuskan turun ke bumi dan mandi di sana.

Bisa jadi, kisah tersebut merupakan cikal bakal cerita rakyat lainnya seperti Jaka Tarub dan Nawang Wulan, serta Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

sanghyang heuleut - gambar 3

Sumber: Polka.id

Tidak ada yang tahu sejak kapan di namai demikian, tetapi pasti itu muncul sejak legenda atau kisahnya tersebar.

Danau ini terletak sekitar lima kilometer dari gerbang PLTA Saguling.

Berwarna biru kehijauan dengan air jernih dan sejuk, membuatnya menjadi hidden paradise di kawasan Bandung Barat.

Kedalamannya di taksir mencapai tiga meter dan di kategorikan aman bagi pengunjung yang bisa berenang.

Memiliki beberapa bukaan untuk tempat air mengalir, danau ini di kelilingi oleh tebing bebatuan berwarna kelabu memudar, menjadi sedikit kecoklatan di dekat permukaan air.

sanghyang heuleut - gambar 4

Sumber: Dakatour.com

Puncaknya seperti mengenakan mahkota hijau dari beragam tanaman yang tumbuh tenggelam di sebaliknya.

Sebagian tebing memang terlalu tinggi untuk dapat menikmati danau dari dekat, tetapi ada beberapa bagian lainnya cukup rendah, bisa kita manfaatkan sebagai tempat duduk.

Tebing batu ini terbentuk selama jutaan tahun dan menjadi alasan mengapa Sanghyang Heuleut di sebut sebagai danau purba.

Proses alami pembentukannya juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan, terutama yang menaruh minat khusus pada bidang geografis dan geologi.

Cara mencapai lokasi

Pertama, Anda harus mengunjungi PLTA Siguling terlebih dulu. Dari Bandung atau Cimahi, kita dapat melewati jalur Padalarang. Jalur tersebut mengarah ke Cianjur, Puncak Bogor dan Sukabumi.

sanghyang heuleut - gambar 5

Sumber: Panoramio.com

Jika dari arah Cipatat, pengunjung dari Bandung cukup mengambil jalan lurus saja. Catatan: segala tipe kendaraan terpaksa harus berhenti dan parkir di dekat PLTA Siguling, tidak jauh dari Sanghyang Tikoro.

Di lokasi pemberhentian, Anda akan menemukan jalan setapak, warung serta petunjuk jalan bertuliskan “Ke Tempat Wisata”.

Biaya parkir yang di minta sebesar 8.000 rupiah dan tidak ada biaya tambahan lain.

Kawasan ini memang belum terkelola secara profesional oleh pemerintah setempat. Beberapa fasilitas umum seperti warung, toilet dan sarana ibadah hanya tersedia pada tempat pemberhentian dan tidak ada satupun di sekitaran danau.

sanghyang heuleut - gambar 6

Sumber: anwariz.com

Jika tidak terbiasa berjalan jauh dan sedikit mendaki, Anda sebaiknya melakukan peregangan terlebih dahulu.

Perlu di ingat, bahwa medan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut terkenal cukup sulit dan melelahkan. Jelas tidak di sarankan berangkat dalam kondisi badan tidak fit.

Jalur trekking yang akan kita lalui, juga menanjak dan berbatu. Harap berhati-hati, sebab jalur seperti ini rawan, serta tingginya resiko terpeleset dan jatuh.

Gunakanlah alas kaki yang tepat dan pakaian nyaman untuk melakukan perjalanan.

Lebih daripada itu, wisatawan juga akan melewati Sanghyang Poek dengan gua gelapnya yang terkenal.

Gua tersebut tembus hingga ke sebuah aliran sungai berbatu yang dangkal. Dari sini ada dua jalur yang dapat Anda tempuh untuk sampai ke danau.

Pertama, dengan melewati bukit berupa jalan setapak dan sungai.

Kedua (alternatif lebih aman), pengunjung hanya melewati jalan setapak saja. Dari titik ini, membutuhkan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam.

Tips dan trik saat berkunjung

Resiko dari mengunjungi tempat yang belum terkelola adalah sulitnya medan tempuh. Sehingga di butuhkan persiapan yang cukup.

  • Lakukan peregangan terlebih dahulu di tempat pemberhentian awal. Ini akan mencegah kita mengalami cidera terutama jika tidak terbiasa mendaki.
  • Siapkan bekal pribadi seperti minuman atau makanan untuk kebutuhan selama perjalanan dan setibanya di lokasi, pakaian ganti, lalu obat-obatan.
  • Kenakan pakaian nyaman dan sesuai untuk pendakian. Sepatu olahraga yang tidak licin, celana fleksibel, serta kaos yang dapat menyerap keringat sangat kami rekomendasikan.
  • Anda juga perlu berhati-hati saat menempuh perjalanan menuju lokasi. Karena jalurnya berbatu, tidak di sarankan untuk berjalan sambil bercanda. Untuk menghindari kecelakaan kecil, pengunjung sebaiknya memperhatikan jalan dengan baik.
  • Perjalanan akan memakan waktu cukup lama, kami anjurkan untuk beristirahat sejenak dahulu di Sanghyang Poek.
  • Danaunya cukup dalam, kurang lebih tiga meter. Berdasarkan hal itu, tidak kami anjurkan untuk berenang bagi Anda yang tidak cukup mahir.
  • Tidak di sarankan juga bagi anak-anak, bermain pada tepian tebing berbatu, karena cenderung licin.
  • Terkadang, arus air bisa sangat deras dan berbahaya. Maka dari itu, pengunjung dilarang mengunjungi ketika musim hujan.
  • Para wisatawan wajib mengumpulkan sampah dan membuangnya pada tempat yang telah tersedia.
  • Sebagai kegiatan alternatif, Anda di izinkan untuk melakukan photo hunting, memancing, bermain air di sungai terdekat dan berkemah di sekitar Sanghyang Heuleut.