close

Negara Nauru, Republik Terkecil Yang Hancur Akibat Pertambangan

negara nauru – gambar 1

Nauru adalah negara berbentuk pulau mungil yang ukurannya hanya setitik di Samudera Pasifik. Luas wilayahnya pun hanya mencapai 21 kilometer persegi.

Nauru merupakan negara terkecil ketiga di Pasifik selatan dan negara dengan luas kedaulatan terkecil ketiga di dunia. Awalnya pulau ini hanya di huni oleh orang-orang Mikronesia dan Polinesia selama lebih dari 3000 tahun, dan terisolasi dari kontak Barat.

Kendati demikian, pulau ini sering di jadikan lokasi pelarian bagi para pelaut dan buronan narapidana.

Sumber daya alam negara Nauru

Pada akhir abad ke 19, Kerajaan Jerman menganeksasi pulau ini dan mengklaimnya sebagai daerah koloni. Tak lama berselang, orang-orang Eropa menyadari bahwa pulau kecil ini kaya akan fosfat dan segera mendirikan pertambangan di sana untuk di ambil hasilnya oleh negara-negara imperialis Barat.

negara nauru - gambar 5

Sumber: Wikimedia

negara nauru

Sumber: Hadi Zaher (Flickr)

Setelah merdeka pada tahun 1968, pertambangan masih menjadi roda penggerak ekonomi Nauru dan kegiatannya semakin di intensifkan. Hingga pada akhirnya persediaan fosfat mereka habis dan ekonomi negaranya hancur tak bersisa.

Karena banyaknya zat fosfat (yang notabenenya bermanfaat untuk menyuburkan lahan) di angkut keluar negeri, maka Nauru harus menanggung akibatnya. Kini, pulau tersebut hanyalah sebuah gurun tandus terpencil yang 80 persen wilayahnya di kelilingi oleh batu karang bergerigi.

negara nauru - gambar 4

Sumber: Roughguides.com

Persediaan fosfat di Nauru adalah hasil pengendapan kotoran burung (di sebut guano) selama ribuan tahun lamanya. Deposit kaya fosfat ini letaknya sangat dekat dengan permukaan sehingga memungkinkan para kapitalis untuk lebih mudah menjalankan operasi pertambangan.

Orang Jerman adalah pihak yang pertama kali mengeksploitasi sumber daya mineral ini, sebelum hak penambangannya di serahkan kepada Inggris melalui sebuah perjanjian. Pasca Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) menunjuk Inggirs, Australia dan Selandia Baru sebagai wali atas Nauru.

Komisi Fosfat Britania kemudian di dirikan untuk menangani hak-hak atas penambangan fosfat di negara tersebut.

Setelah menjadi negara merdeka dan berdaulat, pemerintah Nauru yang pada saat itu baru terbentuk, langsung membeli hak penuh atas bisnis pertambangan fosfat dari Australia.

Ekonomi Nauru pun melonjak tajam seketika. Keuntungan dari aktivitas pertambangan membuat warga Nauru menikmati pendapatan perkapita paling tinggi di dunia pada saat itu.

Rusaknya tatanan ekonomi dan lingkungan

Namun pada saat yang bersamaan, ekologi pulau tersebut menjadi rusak berat. Sebagai informasi, pertambangan fosfat di Nauru melibatkan aktivitas pembongkaran permukaan tanah dan mengekstrak zat fosfat di antara tebing-tebing atau kolom-kolom karang.

negara nauru - gambar 3

negara nauru - gambar 1

Sumber: Department of Foreign Affairs and Trade (Flickr)

negara nauru - gambar 2

Sumber: Nature.com

Pasca penambangan, kolom-kolom tersebut (karang yang tidak menganduk zat) terus meninggi, dan tanah pun tidak lagi dapat di manfaatkan untuk bercocok tanam. Kehidupan biota laut juga ikut terganggu karena limpahan lumpur sisa fosfat mengkontaminasi perairan di sekelilingnya.

Semakin lama, deposit fosfat semakin berkurang, hingga pada akhirnya habis total. Nilai komersial lisensi penambangan di negara tersebut pun ikut berkurang. Hal ini di perparah dengan langkah investasi semena-mena yang di lakukan oleh pemerintah Nauru, seperti halnya membeli hotel di luar negeri dan mendirikan maskapai Air Nauru.

Mereka tidak pernah mendapat keuntungan dari investasi tersebut, sehingga anggaran negara pun menjadi timpang. Karena putus asa akibat tak kunjung memperoleh penghasilan, pemerintah kemudian menawarkan paspor bagi warga negara asing dan menerima kehadiran pengungsi yang di tolak oleh negara lain.

Melihat situasi ini, pada tahun 2001 Australia menawarkan Nauru sejumlah besar uang dan lapangan pekerjaan dengan mendirikan pusat detensi di sana.

Gaya hidup tidak sehat

Ekosistem lingkungan dan ekonomi bukan satu-satunya masalah pelik di Nauru. Warganya sendiri tercatat sebagai masyarakat yang paling banyak menderita sakit dan obesitas, tersiksa oleh diabetes dan hipertensi.

Hanya sedikit warga Nauru yang hidup melewati 60 tahun. Ini karena mereka terbiasa hidup mewah dengan mengimpor makanan beku dan kalengan, alih-alih mengonsumsi ikan segar, sayur dan buah-buahan seperti di masa lampau.

Tercatat: 92 persen warganya mengalami kelebihan berat badan, sementara 72 persen masuk ke level obesitas. Lebih dari 40 persen populasi Nauru menderita diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal serta jantung.

Nauru masih mengekspor fosfat dalam jumlah kecil, namun tidak cukup untuk menopang perekonomian 10.000 warganya. Mereka saat ini banyak bergantung dari bantuan rutin Australia, Taiwan dan Selandia Baru.

Sumber gambar utama: Torsten Blackwood (Getty)