close

Sejarah Jalur Kereta Api Hijaz di Zaman Kesultanan Ottoman

jalur kereta api hijaz – gambar utama

Rel kereta api Hijaz (Hejaz Railway) yang membentang dari Damaskus hingga Madinah adalah salah satu jalur transportasi kereta api utama milik Kesultanan Ottoman (Kekhalifahan Utsmaniyah) Turki.

Rute penting ini menyambungkan banyak daerah padang pasir di Jazirah Arab. Jalur tersebut di bangun pada tahun 1900 atas perintah oleh Khalifah Ustmaniyah terakhir, Sultan Abdul Hamid II.

Rutenya sendiri sedianya akan di perpanjang hingga menuju Mekkah untuk memfasilitasi umat yang ingin melaksanakan ibadah Haji ke kota suci.

Namun beberapa pihak berpendapat, rute tersebut juga di manfaatkan untuk memperkuat kendali Istanbul (pemerintah pusat kekhalifahan) atas provinsi-provinsi yang letaknya jauh dari Turki.

jalur kereta api hijaz

Sumber: Richard Desomme (Panoramio)

jalur kereta api hijaz - gambar 1

Sumber: devillp (Flickr)

Sejarah mencatat, rute tersebut hanya mencapai Madinah saja. Itu pun, masih kurang 400 kilometer dari target awal yang telah di canangkan. Ketika Perang Dunia Pertama pecah, pekerjaan konstruksi rel tersebut menjadi terhambat.

Rel tersebut malah menjadi target bulan-bulanan pemberontak Arab yang ingin memisahkan diri dari rezim Ottoman Turki dan di pimpin oleh komandan perang Inggris, T.E. Lawrence atau yang lebih di kenal dengan nama Lawrence of Arabia.

jalur kereta api hijaz - gambar 2

Sumber: project.scta.gov.sa (Panoramio)

jalur kereta api hijaz - gambar 6

Sumber: Thomas Ritter (Panoramio)

jalur kereta api hijaz - gambar 3

Sumber: Hamadraza (Panoramio)

Sekarang, Anda masih dapat melihat sebagian besar dari jalur dan kendaraan kereta api tersebut. Namun, kondisinya sangat mengenaskan. Lokomotif dan gerbong kereta di biarkan terguling dan terbengkalai. Relnya banyak yang sudah di telan pasir. Semak belukar menghinggapi seluruh sisa badan kereta.

Aksi perusakan kereta milik Ottoman sebenarnya sudah berlangsung bahkan sebelum meletusnya Perang Dunia Pertama. Suku Arab Badui (Badawi) yang tinggal secara nomaden di wilayah padang pasir di sekitarnya merasa terancam dengan keberadaan rel tersebut.

Rupanya ini di karenakan kereta api tersebut menghambat mata pencaharian mereka. Selama berabad-abad, suku-suku Arab asli banyak membimbing dan menjaga para umat Muslim yang hendak melintasi gurun untuk sampai ke Makkah dan Madinah dengan selamat.

Mereka lazimnya bepergian dengan karavan dan unta, serta membutuhkan waktu sekitar 40 hari hingga dua bulan untuk tiba di Kota Suci. Namun ketika jalur kereta api Ottoman di buka, waktu perjalanan yang tadinya membutuhkan dua bulan kini dapat di pangkas menjadi 4 hari saja.

Informasi ini kemudian menyebar luas dengan cepat di antara para jamaah dari Rusia, Asia tengah, Iran dan Irak. Mereka berbondong-bondong beralih ke Damaskus untuk menaiki kereta tersebut.

Puncak kehancuran jalur kereta api hijaz

Pada tahun 1912, tercatat rute tersebut telah mengangkut sekitar 30.000 jamaah setiap tahunnya. Angka ini naik 1000 persen dua tahun berselang.

jalur kereta api hijaz - gambar 4

Sumber: Angus Hamilton Haywood (Flickr)

Akan tetapi di saat yang bersamaan, suku Arab Badui semakin menggencarkan serangannya sehingga para jamaah pun menjadi khawatir akan keselamatannya.

Tidak butuh waktu lama bagi para jamaah untuk menyadari bahwa rute kereta yang notabene-nya membutuhkan waktu empat hari, jauh lebih berisiko ketimbang rute padang pasir yang membutuhkan waktu dua bulan.

Kehancuran jalur kereta Damaskus-Madinah mencapai puncaknya pada Revolusi Arab (Arab Revolt/ Arab Spring) di tahun 1916-1918, ketika pasukan Ottoman yang bergerak dari Turki memanfaatkan kereta tersebut sebagai alat pengangkut pasukan dan logistik perang.

Hal ini malah memberi kesempatan bagi kaum Arab untuk balas dendam terhadap Turki dengan menghancurkan sejumlah besar rel. Pasukan gerilya yang di pimpin oleh perwira Inggris sukses meledakkan mayoritas sambungan rel.

Lebih dari itu, mereka juga menggulingkan beberapa lokomotif kereta bergerak yang pertama kali tercatat beroperasi dalam sejarah.

jalur kereta api hijaz - gambar 5

Sumber: Alex Brey (Flickr)

Pasca Perang Dunia Pertama dan munculnya negara-negara Arab, nasib jalur kereta tersebut tetap terbengkalai, meskipun ada upaya beberapa kali untuk menghidupkannya kembali.

Memang hingga saat ini, beberapa bagian dari jalur kereta api Hijaz masih beroperasi, seperti jalur kereta yang menghubungkan Amman, Yordania dan Damaskus, Suriah. Ada juga jalur yang menghubungkan lokasi tambang fosfat di Ma’an dan Teluk Aqaba di Yordania.

Uniknya, lokomotif dan gerbong kereta yang di operasikan masih banyak yang orisinil dan tetap memanfaatkan tenaga uap serta batu bara. Kereta tertua yang tercatat masih beroperasi di sana adalah lokomotif buatan Jerman di tahun 1898.

Sedangkan bekas jalur kereta api Hijaz yang di biarkan terbengkalai, mayoritas terdapat di pesisir barat Arab Saudi. Para pecinta lokomotif pasti akan takjub melihat kondisinya yang mengenaskan namun memiliki keindahan tersendiri.