close

Gunung Tambora, Sejarah Dan Dampak Letusannya

gunung tambora

Meletusnya Gunung Tambora memang sangat menggemparkan dunia. Tak hanya Indonesia saja, tetapi beberapa negara lain juga ikut merasakan dampak dan menanggung akibatnya.

Tambora dulu pernah di nobatkan sebagai gunung api paling tinggi di Indonesia.

Ketinggiannya mencapai 4.300 mdpl melebihi Jaya Wijaya dengan puncak sekitar 3.050 mdpl. Setelah letusan dahsyat pada tahun 1815, sebagian besar dari atas gunung hancur dan hanya menyisakan kira-kira setengahnya saja (2.851 mdpl).

Lokasinya berada di Kabupaten Bima dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Gambar utama: Paulina Werthen (Youtube.com)

Letusan Gunung Api Tambora

10 April tahun 1815 sekitar pukul 7 malam, Tambora mulai bergetar terus menerus. Hal ini menyebabkan terjadinya gempa-gempa kecil selama lima hari, sampai tiba waktunya dan meletus dengan sangat hebat.

Skala letusan mencapai 7 skala Volcanic Explosivity Index, material vulkanik (mengandung sulfur oksida) yang di keluarkan mencapai 160 kilometer kubik dengan tinggi asap 43 kilometer (menembus lapisan stratosfer).

gunung tambora - gambar 1

Sumber: Xissufotoday.space

gunung tambora - gambar 2

Sumber: Thesocialhistorian.com

Langit pun berubah warna menjadi oranye, yang di sebabkan oleh sulfur oksida. Gas berbau tajam tersebut juga menghalangi matahari untuk sampai ke bumi.

Semua material atau fitur vulkanik terlempar sejauh 20 kilometer ke arah laut hingga menimbulkan tsunami yang melanda Maluku, Jawa Timur dan Bima.

Abu vulkaniknya sendiri telah menjangkau daerah Sulawesi Selatan dan Jawa Barat.

Di saat bersamaan, ada tiga kawasan kerajaan, berlokasi di sekitar Gunung Tambora yaitu Kerajaan Sanggar, Pekat dan Tambora turut menerima dampak serupa. Semua penghuninya tewas, hanya dua orang saja yang selamat.

Di bandingkan peristiwa Krakatau pada tahun 1883, letusan gunung api ini empat kali lebih besar.

Kelaparan dan penyebaran penyakit

Wabah penyakit dan kelaparan terjadi karena banyak daerah hampir seluruhnya tertutupi oleh abu vulkanik, di mana partikel dari abu mengendap pada lapisan atmosfer dan membuat iklim menjadi tak menentu.

Efeknya adalah tumbuhan dan hewan tidak bisa hidup.

Ada 10.000 orang (Lombok) dan 38.000 orang (Sumbawa) yang meninggal akibat kelaparan. Sama halnya di pulau Bali, ada 10.000 lebih orang meninggal karena kelaparan dan 49.000 orang di sebabkan oleh penyakit.

gunung tambora - gambar 3

Sumber: Warriorworldgeography2.weebly.com

Kekacauan iklim juga terjadi di Amerika Serikat, Eropa dan Kanada. Tepatnya tahun 1816 semua negara tersebut tidak dapat mengalami musim panas sama sekali.

Dampak paling parah terjadi di Irlandia. Hampir sepanjang tahun terjadi hujan dingin dan telah menembus angka 65.000 jiwa yang telah meninggal.

Wabah tersebut terus menyebar ke seluruh Benua Eropa. Jika di total ada lebih dari 200.000 orang meninggal dunia.

Asal usul dan penelitian

Namanya berasal dari dua kata yakni ta (mengajak) dan mbora (menghilang). Istilah tersebut seakan-akan di dukung oleh kasus hilangnya 4500 lebih pendaki dan pemburu di gunung ini.

Sekitar tahun 2004, para arkeologi mulai melakukan penelitian terhadap Tambora. Sepanjang pengamatan, mereka menemukan beragam sisa peradaban serta peninggalan kerajaan seperti kaca, tembikar dan perunggu.

6 tahun berikutnya, di lakukan lagi penelitian (penggalian) oleh Balai Arkeologi Denpasar. Temuannya pun hampir serupa, yakni perabotan rumah tangga, rangka rumah, alat tenun, keramik, keris serta perhiasan.

Dampak lainnya

Ada banyak sejarah di dunia tercatat, akibat peristiwa ini. Salah satunya adalah kekalahan Napoleon beserta pasukannya, di mana saat itu beliau merupakan sosok yang sangat berpengaruh di benua Eropa.

Tahun 1815 tepatnya bulan juni, Napoleon terpaksa menerima kekalahan yang di akibatkan oleh bencana iklim di eropa. Tentunya itu di sebabkan oleh amukan Gunung Api Tambora.

Hujan badai yang sangat dingin membuat pasukannya kedinginan dan akhirnya kalah.

Setahun berselang, Baron Karl Von Drais membuat sepeda berangka kayu (di klaim sebagai sepeda pertama di dunia) untuk alat ganti transportasi kuda (banyak dari hewan ini tidak bisa berjalan dan meninggal).

Pulihnya Gunung Tambora

Tambora telah pulih kembali. Bahkan sudah sering di jelajah oleh para pendaki (khususnya ilmuan ekologi).

Bagi para ilmuwan, Tambora menjadi tempat paling cocok untuk meneliti fenomena alam yang terjadi setelah proses letusan (berhubungan dengan vulkanologi dan geologi).

Gunung ini sudah mulai di tumbuhi oleh berbagai jenis tanaman dan di huni banyak sekali hewan seperti burung Kakatua Jambul Kuning, monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, burung perkici dada merah dan lainnya.

gunung tambora - gambar 4

Sumber: Topindonesiaholidays.com

gunung tambora - gambar 5

Sumber: Mounttambora.com

Akibat suksesi ekologi pada ketinggian kurang lebih 1200 mdpl (tumbuhnya beranekaragam vegetasi, hutan musim, hutan hujan tropis dan lainnya), kini Tambora telah di penuhi oleh cemara gunung dan padang rumput yang indah.

Sampai saat ini Gunung Api Tambora masih tetap aktif dengan aktivitas yang kecil.