close

Curug Cimahi, Dua Wajah Di Waktu yang Berbeda

curug cimahi

Curug Cimahi memang bukan objek wisata air terjun yang biasa di kunjungi oleh wisatawan. Konon curug ini di kenal memiliki dua “wajah” berlainan yang bisa di nikmati pada waktu yang berbeda.

Menawarkan lebih dari sekadar keindahan alami, Cimahi juga di kenal akan integrasinya dengan teknologi yang menawan. Saat ini, telah menjadi salah satu tempat yang sering di kunjungi warga Bandung dan sekitar.

Karakter alam curug Cimahi

Seperti halnya curug lain, Cimahi juga di aliri oleh sungai tertentu. Dalam hal ini alirannya datang dari sungai Cimahi, yang juga menjadi latar belakang istilahnya. Sungai tersebut mengaliri kota dari hulu Situ Lembang.

Tinggi curug mencapai 1.050 meter di atas permukaan laut. Debit airnya pun cukup deras sehingga pengunjung bisa mendengar suara deru air dari kejauhan.

curug cimahi - gambar 1

Bahkan cipratan air pun mampu membasahi pengunjung yang berada pada radius cukup jauh. Kebanyakan dari kita tidak dapat berenang di muaranya pula karena takut terkena hempasan curahan air tersebut.

Lebih daripada itu, pesonanya tidak hanya di situ saja. Di jaga kelestariannya dengan baik, curug Cimahi banyak di kelilingi oleh tanaman hijau dan subur.

Beberapa jenis tanaman tampak tumbuh merambat pada dinding-dinding tebing dan memberikan keseimbangan warna yang sejuk dan segar.

Muaranya bening dan di kerumuni oleh beberapa batuan besar yang sering di gunakan sebagai tempat duduk oleh wisatawan sembari berbasah-basahan.

Jika di lihat dari atas, air terjun ini mirip sebuah tong yang dalam dengan dinding tebing berwarna kelabu. Menjadi satu-satunya bukaan, seolah-olah sedang menuangkan minuman ke dalam gelas sangat besar.

Air terjun dengan dua wajah

Pesona curug tidak berhenti di sini saja. Dalam rangka mempopulerkan wisata alam di Bandung, pihak pengelola melakukan satu trik brilian untuk menambah daya tariknya.

Di balik aliran air terjun, mereka memasang beberapa set lampu berwarna-warni dengan pengaturan tertentu.

Tentu saja, lampunya adalah benda istimewa yang memang cocok di pasang pada medan seperti ini. Jika di siang hari pengunjung akan di manjakan dengan pemandangan alam sejuk, segar dan asri, malamnya Anda akan tersuguhi oleh pesona permainan lampu.

curug cimahi - gambar 2

Terbiaskan oleh aliran air, warna-warni lampu seolah-olah menjadi pelangi pada petang hari.

Di mana lagi bisa menikmati pemandangan serupa seperti itu? Bukan hanya menunjukkan kepiawaian dalam pemanfaatan teknologi, hal tersebut juga ikut memaksimalkan keindahan alami curug.

Brilian! Itulah penyebab utama mengapa objek wisata di buka untuk umum lebih lama dan bertambahnya jumlah pengunjung setelah petang.

Curug ini juga berada dalam satu kawasan dengan beberapa curug lainnya seperti Penganten dan Bugbrug yang sedang hits di kalangan wisatawan.

curug cimahi - gambar 3

Dekatnya lokasi antara satu sama lain, membuat jumlah pengunjung semakin bertambah banyak.

Selain menikmati dari dekat, Anda juga bisa naik ke balkon yang memang di buat khusus untuk menikmati keindahan sekitar dari tempat yang sedikit lebih tinggi.

Balkon tersebut menyuguhkan pemandangan lebih menyeluruh.

Mencapai curug Cimahi

Di lihat dari segi administratif, letaknya masih berada di wilayah Bandung Barat. Lebih tepat, berada di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua.

Lokasinya hanya sekitar 20 kilometer dari kota Bandung atau 10 kilometer dari Cimahi. Jika pengunjung berangkat dari Cimahi, perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Lain halnya dari Bandung, Anda memerlukan waktu sekitar 45 menit.

Untuk sampai ke lokasi, kita bisa menggunakan jalur Cihanjuang dan Parongpong. Sebagai alternatif, pengunjung juga dapat melewati jalur Lembang.

Kita tidak akan kesulitan menemukan pintu masuk menuju curug. Tepat di samping terminal angkot Cisarua, Anda akan menemukan pintu masuknya dengan mudah. Lokasi ini bisa di capai dengan kendaraan pribadi maupun umum, dan telah di sediakan lahan parkir yang luas.

Harga tiket masuk

Harga tiketnya berbeda dari satu waktu dengan waktu lainnya. Pengunjung yang datang pada pagi hingga sore hari (hingga pukul 17.00) cukup membayar 12.000 rupiah saja per orang.

Sementara itu, jika datang di atas jam 17.00 harus membayar tiket masuk seharga 15.000 rupiah per orang.

Perbedaannya memang tidak signifikan dan sudah barang tentu, hal ini di latar-belakangi oleh biaya operasional penggunaan lampu pelangi tersebut.

Di bandingkan dengan pesona yang di tawarkan, harga tiketnya tergolong murah dan menjangkau sebagian besar kalangan masyarakat.

Tips untuk pengunjung

Anda mungkin dapat menggunakan beberapa tips berikut agar perjalanan dan pengalaman saat menyambangi menjadi lebih berkesan dan nyaman.

  • Kenakan pakaian yang nyaman dan cukup hangat. Suhu di sekitar lokasi mencapai 18-22 derajat celsius dan bisa terasa dingin sekali.
  • Jangan kenakan sepatu atau sandal yang tidak nyaman. Karena pelanggan harus berjalan kaki menaiki dan menuruni tangga, sepatu atau sandal flat dan tidak licin sangat kami rekomendasikan.
  • Jika ingin melihat dari jarak dekat, jangan lupa untuk membawa baju ganti.
  • Jangan membiarkan anak-anak berjalan atau berlarian sendiri, sebab medannya licin.
  • Bawa kantong plastik untuk menampung sampah dan jangan buang sembarangan.
  • Jangan berdesak-desakan atau bercanda, bahkan membuat kegaduhan saat di balkon karena posisinya cukup tinggi, yang cenderung berbahaya.
  • Tidak perlu terburu-buru untuk tiba, banyak pemandangan di sepanjang jalan setapak sangat asri dengan suara monyet yang jinak, serta kicauan burung dapat Anda nikmati terlebih dahulu.
  • Usahakan untuk datang lebih pagi, ketika belum terlalu ramai dan sinar matahari tidak terlalu panas.
  • Kalau ingin menikmati pemandangan pada malam hari, usahakan datang sebelum jam 17.00. Selain bisa sedikit berhemat dengan harga tiket, perjalanan juga masih cukup terang.
  • Tempat selfie terbaik adalah di balkon dan bebatuan dekat muara dengan latar belakang curug.